Menaker Yassierli Ungkap 3 PR berat di Dunia Kerja Indonesia, Apa Saja?

Feby Ferdian
2 Min Read

Merdeka Plus – Dunia kerja Indonesia tengah menghadapi sejumlah tantangan serius yang tak bisa ditangani sepihak. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan perlunya kolaborasi erat antara pemerintah, serikat pekerja/serikat buruh (SP/SB), dan dunia usaha.

Hal itu ia sampaikan dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional Federasi Serikat Pekerja Logam, Elektronik, dan Mesin (FSP LEM SPSI) di Karawang, Senin (1/9/2025).

Menurut Yassierli, ada tiga “PR besar” yang perlu segera dijawab bersama, yaitu:

  1. Pembaruan regulasi ketenagakerjaan
  2. Penguatan Gerakan Produktivitas Nasional
  3. Upskilling dan reskilling tenaga kerja

Yassierli mengakui, masih banyak isu krusial yang membutuhkan solusi komprehensif, mulai dari upah minimum (UM), tenaga kerja asing (TKA), sistem kontrak (PKWT), outsourcing, cuti, hingga pesangon dan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menurutnya, hubungan industrial yang harmonis memang penting, namun belum cukup. Dunia kerja Indonesia perlu melangkah lebih jauh menuju hubungan industrial transformatif, dengan produktivitas sebagai fondasi utama.

“Produktivitas kita masih 10% di bawah rata-rata ASEAN. Mimpi besar saya, SP/SB menjadi champion produktivitas—bukan hanya memperjuangkan hak, tapi juga jadi konsultan dan pengampanye budaya kerja produktif,” ujar Yassierli.

Sebagai tindak lanjut, Kemnaker telah menyiapkan program pelatihan ahli produktivitas. Yassierli berharap FSP LEM SPSI dapat terlibat aktif dalam program training of trainers (ToT) agar pengetahuan ini bisa diperluas ke seluruh daerah.

Tak hanya itu, peningkatan kompetensi pekerja juga jadi agenda prioritas. Balai Latihan Kerja (BLK) dan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) disebut akan diperluas di berbagai wilayah.

“Kami memperbarui kurikulum melalui SKKNI agar relevan dengan kebutuhan industri. Balai-balai ini harus dimanfaatkan tidak hanya pencari kerja, tapi juga serikat pekerja untuk upskilling dan reskilling,” jelasnya.

Kemnaker juga menggulirkan slogan “A Nice Place to Grow”, sebagai simbol ruang pengembangan kapasitas pekerja secara berkelanjutan.

Yassierli menegaskan, peningkatan produktivitas merupakan salah satu syarat utama menuju visi Indonesia Emas 2045. Targetnya, produktivitas nasional harus naik hingga 260% agar Indonesia mampu sejajar dengan negara maju.

“AI bukan untuk menggantikan kita, tapi mendukung kita. Dengan kolaborasi pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja, saya yakin kita bisa mewujudkan lompatan besar itu,” pungkasnya.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *