Merdeka Plus – Baru dua bulan meresmikan pabrik perdananya di Cikarang, Jawa Barat, PepsiCo Indonesia mulai mengambil langkah nyata dalam mendukung keberlanjutan.
Produsen makanan ringan Lay’s, Cheetos, dan Doritos itu resmi menggandeng Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) dan Bali Waste Cycle (BWC) dengan dukungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk menerapkan kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR).
Langkah ini diumumkan dalam media briefing dan talk show bertajuk “Towards Circularity: Tackling Waste Management Challenge Through Multi-Stakeholder Collaboration” yang digelar Selasa (26/8). Acara menghadirkan perwakilan pemerintah, pengelola sampah, dan media untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan kemasan pascakonsumsi, khususnya plastik berlapis (multi-layered plastics/MLP) yang sulit didaur ulang.
Gabrielle Angriani Johny, Direktur Government Affairs and Corporate Communications PepsiCo Indonesia, menegaskan bahwa keberlanjutan adalah bagian dari strategi global PepsiCo Positive (pep+). Strategi ini menanamkan praktik ramah lingkungan di seluruh rantai nilai, mulai dari produksi, pengemasan, hingga distribusi.
“Sejak awal berdiri, kami berkomitmen mendorong praktik berkelanjutan. Di pabrik Cikarang, kami sudah mulai menggunakan listrik terbarukan, mengelola daur ulang air, serta memastikan sampah produksi—mulai dari plastik, logam, karton, kertas, hingga kaca—dikelola sesuai standar pemerintah,” jelas Gabrielle.
EPR Sebagai Aturan Nasional
EPR sendiri merupakan pendekatan strategis pengelolaan sampah yang sudah diatur dalam UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah serta Permen LHK No. 75/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Aturan ini mewajibkan produsen mengurangi timbulan sampah hingga 30% pada tahun 2029.
Agus Rusly, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular KLH, menegaskan bahwa dukungan industri sangat penting dalam mencapai target tersebut. “Pemerintah tidak bisa melakukannya sendiri. Peran produsen sangat krusial untuk mewujudkan praktik ekonomi sirkular di Indonesia. Apa yang dilakukan PepsiCo, IPRO, dan BWC patut diapresiasi dan bisa jadi contoh bagi produsen lain,” katanya.
Peran IPRO dan BWC
IPRO, organisasi nirlaba yang fokus pada pengelolaan sampah kemasan, telah berhasil mengumpulkan lebih dari 19 ribu ton sampah terpilah untuk didaur ulang antara 2021–2024, termasuk hampir 2 ribu ton plastik berlapis. Sampah ini diolah kembali menjadi bahan baku kemasan detergen, palet gudang, hingga material bangunan.
“Kolaborasi dengan PepsiCo adalah wujud nyata kepatuhan sektor swasta terhadap EPR sekaligus kontribusi membangun sistem pengelolaan sampah terintegrasi di Indonesia,” ujar Reza Andreanto, General Manager IPRO.
Sementara itu, Bali Waste Cycle (BWC) menyoroti potensi plastik bernilai rendah yang biasanya berakhir di TPA. Melalui inovasi, BWC berhasil mengubah MLP menjadi furnitur, perabot rumah tangga, hingga kaki palsu bagi penyandang disabilitas. Dukungan PepsiCo melalui program Greenhouse Accelerator (GHAC) APAC 2025 juga memberi pendanaan dan pendampingan agar BWC bisa memperluas dampaknya.
“Solusi atas plastik bernilai rendah hanya mungkin terwujud lewat kolaborasi lintas sektor. Dengan dukungan seperti ini, kami bisa membangun sistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujar Olivia Anastasia Padang, Direktur BWC.
Melalui kolaborasi multipihak ini, PepsiCo berharap dapat memperluas kapasitas pengumpulan dan daur ulang sampah kemasan makanan ringan di Indonesia. Selain itu, PepsiCo juga tergabung dalam Business Coalition for a Global Plastics Treaty, bersama lebih dari 290 bisnis dan LSM, yang mendorong upaya global mengatasi sampah plastik.
Gabrielle menegaskan, “Bagi kami, keberlanjutan bukan sekadar inisiatif jangka pendek. Ini adalah perjalanan panjang yang hanya bisa tercapai melalui kerja sama erat antar pemangku kepentingan.”
Inisiatif ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam mendukung ambisi keberlanjutan Indonesia, sekaligus membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih inklusif, adil, dan berdampak nyata bagi masyarakat serta lingkungan.
