Minyak Turun, Emas Malah Naik! Kok Bisa? Ini Biang Keroknya

Lho, kok bisa? Minyak turun, emas naik. Mereka ini sedang tukar nasib atau bagaimana?

Merdeka Plus – Bayangkan kamu baru saja membaca berita harga minyak dunia turun. Harusnya kabar bagus, dong? Setidaknya, ada harapan biaya energi lebih adem dan inflasi nggak makin panas.

Eh, ternyata harga emas dunia malah naik.

Lho, kok bisa? Minyak turun, emas naik. Mereka ini sedang tukar nasib atau bagaimana?

Tenang, pasar keuangan memang kadang kelihatannya suka bikin orang garuk-garuk kepala. Namun, kalau ditelusuri, pergerakan harga emas kali ini ada ceritanya. Mulai dari harga minyak, ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran, sampai keputusan bank sentral AS yang namanya sering muncul di berita: The Fed.

Kabar ini juga menarik buat kamu yang sedang mengincar emas Antam atau gelang emas di toko seperti Semar Nusantara. Sebab, harga emas dunia memang bisa memengaruhi harga emas di Indonesia, tetapi bukan berarti semuanya langsung naik dengan angka yang sama.

Nah, sebelum ikut senang melihat harga emas naik, kita kenalan dulu dengan masalahnya.

Emas Dunia Lagi Bangkit, Memangnya Sempat Jatuh?

Harga emas dunia menguat pada Senin (26/10/2026), setelah sebelumnya sempat terperosok ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan.

Mengutip CNBC, Selasa (27/10/2026), harga emas di pasar spot naik 0,6% menjadi US$ 4.020,60 per ons. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh US$ 3.975 per ons pada Jumat, level terendah sejak 20 Juli 2026.

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga naik 0,8% dan ditutup di level US$ 4.038,40 per ons.

Sekarang, jangan buru-buru membayangkan harga gelang emas di toko langsung berubah begitu angka tersebut muncul.

Emas dunia yang dimaksud dalam berita ini adalah emas yang diperdagangkan di pasar internasional, bukan harga gelang, kalung, atau cincin di etalase toko.

Harga emas dunia biasanya dinyatakan dalam dolar AS per troy ounce. Satu troy ounce setara dengan sekitar 31,1 gram emas.

Jadi, angka US$ 4.020,60 tadi merupakan harga untuk sekitar 31,1 gram emas berdasarkan acuan perdagangan internasional. Bukan berarti kamu bisa datang ke toko emas, menyodorkan uang dalam jumlah yang setara, lalu pulang membawa gelang 31 gram. Kalau semudah itu, mungkin toko emas sudah antre sampai parkiran.

Harga tersebut masih perlu dikonversi ke rupiah. Setelah itu, ada faktor lain yang menentukan harga emas batangan maupun perhiasan di Indonesia, termasuk kurs, kadar emas, biaya produksi, dan margin penjual.

Lalu, sebenarnya apa yang membuat harga emas dunia kembali naik?

Minyak Turun, Kok Emas Malah Dapat Angin Segar?

Untuk memahami ceritanya, kita perlu sedikit melipir ke pasar minyak.

Harga minyak dunia melemah setelah sempat melonjak pada pekan sebelumnya. Salah satu faktor yang diperhatikan pasar adalah munculnya harapan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran bisa mereda.

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa urusan dua negara itu bisa ikut menentukan harga minyak?

Begini. Minyak merupakan salah satu sumber energi penting bagi perekonomian dunia. Bukan cuma untuk bahan bakar kendaraan, tetapi juga untuk transportasi barang, kegiatan industri, dan berbagai proses produksi.

Kalau pasokan minyak terganggu, harga minyak bisa melonjak. Biaya pengiriman barang dan produksi pun berpotensi ikut naik. Pada akhirnya, kenaikan biaya itu bisa merembet ke harga barang dan jasa yang dibayar masyarakat.

Inilah salah satu jalan menuju inflasi.

Inflasi sederhananya adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Kalau dulu uang Rp 50.000 masih cukup untuk membeli beberapa kebutuhan, tetapi sekarang jumlah barang yang bisa dibawa pulang lebih sedikit, kamu sudah merasakan salah satu dampak kenaikan harga.

Dompetnya tetap sama, isinya juga sama, tetapi belanjaannya makin sedikit. Rasanya seperti ada anggota keluarga baru yang diam-diam ikut makan.

Nah, ketika harga minyak turun, kekhawatiran bahwa inflasi akan semakin tinggi bisa sedikit mereda. Kondisi ini kemudian memengaruhi perkiraan pasar mengenai langkah bank sentral dalam menentukan suku bunga.

Di sinilah emas ikut masuk ke dalam cerita.

Namun, bukan berarti setiap harga minyak turun, harga emas pasti naik. Hubungannya tidak sesederhana sakelar lampu. Ada faktor lain yang ikut bermain, terutama suku bunga, nilai dolar AS, dan keputusan investor.

Amerika dan Iran Ada Masalah Apa, Sih?

Nama Amerika Serikat dan Iran sering muncul dalam berita ekonomi karena ketegangan di antara keduanya bisa memengaruhi situasi keamanan di Timur Tengah, termasuk risiko gangguan pasokan energi.

Salah satu jalur penting dalam perdagangan minyak dunia adalah Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini menghubungkan kawasan Teluk dengan pasar internasional dan menjadi salah satu rute strategis pengiriman minyak.

Kalau ketegangan meningkat dan muncul risiko gangguan pelayaran di kawasan tersebut, pelaku pasar bisa khawatir pasokan minyak akan terhambat.

Akibatnya, harga minyak berpotensi naik, bahkan sebelum gangguan pasokan benar-benar terjadi. Sebab, pasar tidak hanya menghitung kejadian yang sudah berlangsung, tetapi juga memperhitungkan risiko yang mungkin muncul.

Sebaliknya, kalau ada harapan ketegangan mereda, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan bisa berkurang. Harga minyak pun bisa mendapat tekanan untuk turun.

Lalu, apa hubungannya dengan emas?

Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, sebagian investor melirik emas sebagai salah satu aset lindung nilai. Namun, konflik juga bisa memicu kenaikan harga energi dan inflasi, yang kemudian memengaruhi perkiraan suku bunga.

Jadi, efeknya bisa datang dari beberapa arah sekaligus.

Perlu dicatat, harapan meredanya ketegangan AS-Iran bukan berarti seluruh masalah kedua negara sudah selesai. Pasar hanya sedang memperhitungkan kemungkinan bahwa risiko gangguan pasokan energi bisa berkurang.

Ibarat melihat awan mendung mulai menjauh, orang boleh sedikit lega. Tetapi belum tentu hujannya benar-benar selesai.

Kenalan dengan The Fed, Si Pengatur Suku Bunga Amerika

Kalau mengikuti berita harga emas, kamu mungkin sering menemukan kalimat seperti, “Investor menanti keputusan The Fed.”

The Fed itu siapa? Pemilik tambang emas Amerika atau penjaga gudang logam mulia?

Bukan. The Fed adalah singkatan dari Federal Reserve, yaitu bank sentral Amerika Serikat.

Salah satu tugas penting lembaga ini adalah menjaga stabilitas harga dan mendukung kondisi ketenagakerjaan yang sehat. Dalam menjalankan kebijakannya, The Fed antara lain menggunakan suku bunga acuan untuk memengaruhi kondisi keuangan dan perekonomian.

Gampangnya, suku bunga ikut menentukan seberapa mahal biaya meminjam uang dan memengaruhi imbal hasil dari sejumlah instrumen keuangan.

Ketika The Fed menaikkan suku bunga, pinjaman bisa menjadi lebih mahal. Pada saat yang sama, instrumen seperti obligasi pemerintah AS bisa menawarkan imbal hasil yang lebih menarik, tergantung kondisi pasar.

Nah, emas punya satu kekurangan kalau dibandingkan dengan instrumen yang membayar bunga: emas tidak memberikan bunga secara berkala hanya karena kamu menyimpannya.

Emas memang bisa naik harganya, tetapi tidak ada pembayaran bunga bulanan yang tiba-tiba masuk ke rekening. Emas juga tidak akan mengirim pesan, “Terima kasih sudah menyimpan saya selama sebulan.”

Karena itu, ketika imbal hasil instrumen berbunga meningkat, sebagian investor bisa memilih aset tersebut daripada emas. Sebaliknya, jika suku bunga diperkirakan turun, emas bisa menjadi relatif lebih menarik.

Inilah yang disebut biaya peluang. Sederhananya, biaya peluang adalah keuntungan yang mungkin kamu lewatkan karena memilih satu pilihan dibandingkan pilihan lainnya.

Namun, jangan disimpulkan bahwa suku bunga naik pasti membuat emas turun atau suku bunga turun pasti membuat emas naik. Harga emas tetap dipengaruhi banyak hal, termasuk nilai dolar AS dan kondisi geopolitik.

The Fed Mau Ngapain Pekan Ini?

Pada Rabu pekan ini, pasar menunggu keputusan suku bunga The Fed.

Menurut laporan yang dikutip dalam berita tersebut, pasar secara luas memperkirakan The Fed akan menahan kenaikan suku bunga setelah menaikkannya pada September. Namun, kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember masih menjadi perhatian investor.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada Desember disebut mencapai 80% menurut perangkat FedWatch dari CME.

Angka tersebut merupakan perkiraan pasar, bukan keputusan resmi The Fed. Jadi, jangan sampai membaca angka 80% lalu menganggap bank sentral Amerika sudah mengeluarkan surat keputusan. Pasar masih memperkirakan; keputusan resminya tetap menunggu pengumuman.

Analis StoneX, Bob Haberkorn, mengatakan penurunan harga minyak turut membantu emas, ditambah aksi beli ketika harga sedang rendah.

Ia juga memperkirakan perdagangan emas cenderung sepi dan bergerak di sekitar US$ 4.000 sampai pengumuman The Fed keluar.

Artinya, sebagian pelaku pasar memilih menunggu. Mereka ingin melihat apakah keputusan bank sentral sesuai dengan perkiraan atau justru membawa kejutan.

Sebab, di pasar keuangan, pengumuman yang sudah diperkirakan kadang tidak terlalu mengejutkan. Justru perubahan dari perkiraan sebelumnya yang bisa membuat harga bergerak tajam.

Kalau Harga Emas Dunia Naik, Antam Ikut Naik?

Nah, ini pertanyaan yang mungkin lebih dekat dengan isi dompet kita.

Jawabannya: harga emas dunia bisa memengaruhi harga emas Antam, tetapi kenaikannya tidak harus sama persis.

Emas batangan Antam dijual dalam berbagai ukuran, misalnya 0,5 gram, 1 gram, hingga ukuran yang lebih besar. Harga jualnya di Indonesia dipengaruhi harga emas dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta faktor harga dan biaya yang berlaku pada produk tersebut.

Bayangkan harga emas dunia naik, tetapi rupiah juga menguat terhadap dolar AS. Penguatan rupiah bisa mengurangi dampak kenaikan harga emas dunia ketika dihitung dalam rupiah.

Sebaliknya, jika harga emas dunia naik dan rupiah melemah, kenaikan dalam rupiah bisa menjadi lebih besar.

Jadi, ada dua hal yang perlu diperhatikan: harga emas internasional dan nilai tukar rupiah. Keduanya bisa bergerak bersamaan, tetapi tidak selalu ke arah yang sama.

Selain itu, ada perbedaan antara harga ketika membeli emas dan harga ketika menjualnya kembali.

Harga jual adalah harga yang kamu bayar saat membeli emas dari penjual. Sementara itu, harga buyback adalah harga yang ditawarkan ketika kamu menjual kembali emas kepada pihak yang menerima pembelian tersebut.

Selisih antara keduanya biasa disebut spread.

Misalnya, kamu membeli emas seharga Rp 2 juta, tetapi jika langsung dijual kembali, harga buyback yang ditawarkan hanya Rp 1,85 juta. Artinya, kamu perlu memperhitungkan selisih Rp 150.000 itu sebelum berharap mendapatkan keuntungan.

Angka tersebut hanya contoh sederhana, bukan harga Antam aktual.

Karena itu, jangan langsung menganggap membeli emas hari ini lalu menjualnya besok akan menghasilkan keuntungan hanya karena harga emas dunia sedang naik. Bisa saja kenaikan harga belum cukup untuk menutup selisih harga beli dan buyback.

Emas bukan mesin ATM yang tinggal dimasukkan uang hari ini, lalu besok mengeluarkan keuntungan.

Emas Antam Sama dengan Gelang di Toko Semar?

Sama-sama emas, tetapi produknya berbeda.

Emas batangan Antam umumnya dipasarkan sebagai logam mulia berkadar tinggi. Sementara itu, gelang dan perhiasan lain dibuat dengan berbagai kadar emas, tergantung produk yang dipilih.

Contohnya, emas 18 karat secara nominal mengandung sekitar 75% emas. Emas 22 karat mengandung sekitar 91,7% emas.

Artinya, gelang 18 karat dengan berat 10 gram tidak memiliki kandungan emas murni sebanyak emas batangan berkadar tinggi dengan berat yang sama.

Selain kadar, harga perhiasan juga dipengaruhi desain dan ongkos pengerjaan. Ketika membeli gelang, kamu membayar kandungan emas sekaligus bentuk dan pengerjaannya.

Namun, saat menjualnya kembali, ongkos pembuatan tidak otomatis kembali sepenuhnya. Harga buyback perhiasan bergantung pada ketentuan toko, kadar, berat, dan harga yang berlaku saat transaksi.

Inilah salah satu alasan harga beli dan harga jual kembali gelang bisa berbeda cukup jauh.

Kalau kamu ingin membeli atau menjual emas di Semar Nusantara, periksa harga dan ketentuan yang berlaku melalui situs resmi Semar Nusantara.

Jadi, ketika harga emas dunia naik 0,6%, jangan langsung mengalikan harga gelangmu dengan angka tersebut. Harga emas Antam dan perhiasan bisa bergerak berbeda karena ada faktor tambahan.

Investor Juga Menunggu Data Inflasi dan Pemilu AS

Kalau urusannya cuma minyak dan The Fed, mungkin ceritanya sudah cukup panjang. Namun, investor masih punya beberapa hal lain untuk dipantau.

Salah satunya adalah data Personal Consumption Expenditures atau PCE AS, yang dijadwalkan dirilis pada Kamis.

Nama lengkapnya memang panjang, tetapi sederhananya PCE merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Data ini menjadi salah satu acuan penting bagi The Fed dalam menilai inflasi.

Kalau inflasi ternyata masih tinggi, pasar bisa memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Kondisi ini dapat memengaruhi daya tarik emas.

Sebaliknya, jika tekanan inflasi terlihat mereda, perkiraan pasar mengenai arah suku bunga bisa berubah.

Investor juga memperhatikan pemilihan umum paruh waktu AS pada 3 November. Hasil pemilu bisa memengaruhi arah kebijakan fiskal, tarif perdagangan, belanja pemerintah, dan kebijakan geopolitik.

Menurut analis OCBC, perhatian pasar bukan hanya tertuju pada siapa yang menang, melainkan juga bagaimana hasil pemilu dapat memengaruhi kebijakan dan ketidakpastian ekonomi.

Dampaknya bisa merembet ke imbal hasil obligasi pemerintah AS, nilai dolar, dan harga emas.

Jadi, investor emas kadang harus memantau banyak hal sekaligus. Harga minyak dilihat, data inflasi ditunggu, keputusan The Fed dinanti, pemilu pun ikut diperhatikan. Kurang lebih seperti mengerjakan beberapa tugas kelompok sekaligus, bedanya nilai akhirnya bisa langsung terlihat di pasar.

Perak Naik, Platinum Turun. Kok Nggak Kompak?

Di tengah kenaikan harga emas, logam lain ternyata tidak semuanya ikut naik.

Harga perak dunia naik 0,2% menjadi US$ 54,01 per ons. Sebaliknya, harga platinum turun 1,2% menjadi US$ 1.532,55 per ons setelah sempat menyentuh level terendah sejak November 2025.

Sementara itu, harga paladium naik 0,5% menjadi US$ 1.048,70 per ons.

Paladium juga mendapat perhatian setelah Nornickel, perusahaan asal Rusia yang merupakan produsen paladium terbesar di dunia sekaligus produsen utama nikel olahan, menyatakan rencana perombakan besar-besaran pada tanur peleburan berpotensi mengurangi produksi logam-logam utamanya pada 2027–2028.

Kondisi ini menunjukkan bahwa setiap logam punya cerita masing-masing. Harga emas bisa dipengaruhi suku bunga dan permintaan aset lindung nilai, sedangkan logam lain juga memiliki faktor permintaan industri dan pasokan yang berbeda.

Jadi, meskipun sama-sama dijual di pasar komoditas, mereka tidak harus kompak naik bersama. Bahkan dalam satu kelompok logam saja, suasananya bisa berbeda-beda.

Jadi, Sekarang Waktunya Beli Emas?

Harga emas dunia memang kembali naik pada Senin (26/10/2026), setelah sebelumnya tertekan. Penurunan harga minyak dan aksi beli saat harga rendah ikut membantu pergerakannya.

Namun, masih ada keputusan The Fed, data inflasi AS, nilai dolar, dan perkembangan geopolitik yang bisa memengaruhi harga berikutnya.

Bagi kamu yang ingin membeli emas di Indonesia, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan.

Kalau ingin membeli emas Antam, periksa harga jual dan buyback, lalu perhatikan perubahan kurs rupiah.

Kalau ingin membeli perhiasan, periksa kadar emas, berat, ongkos pembuatan, dan ketentuan jual kembalinya.

Kalau ingin membeli emas digital, pahami biaya transaksi, mekanisme kepemilikan, dan ketentuan pencairan atau penarikan emas fisik.

Yang tidak kalah penting, sesuaikan pembelian dengan tujuan dan kemampuan keuangan. Jangan membeli hanya karena melihat berita harga emas sedang naik, apalagi kalau uangnya sebenarnya dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebab, berita harga emas dunia memberi gambaran tentang kondisi pasar internasional. Namun, harga yang benar-benar kamu bayar di toko tetap bergantung pada produk dan ketentuan penjual.

Pada akhirnya, minyak turun dan emas naik bukan kejadian ajaib. Ada hubungan antara harga energi, kekhawatiran inflasi, suku bunga, dan keputusan investor di baliknya.

Memahami hubungan tersebut bisa membantu kita membaca berita ekonomi dengan lebih tenang. Jadi, lain kali melihat judul harga emas dunia naik, kamu nggak perlu langsung panik atau buru-buru membuka dompet.

Cek dulu emas yang dimaksud, lihat harga di pasar Indonesia, lalu hitung dengan kepala dingin.

Karena kalau soal emas, jangan sampai harga dunia baru naik sedikit, tetapi kita sudah ikut-ikutan naik tensi.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *